Wednesday, November 30, 2016

Contoh Makalah Model Pembelajaran STAD

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN
STUDENT TEAM ACHIVEMENT DIVISION  (STAD)
DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
MATEMATIKA SISWA KELAS VII
SMPI LUKMAN ALHAKIM
BALIKPAPAN
2016/2017


PROPOSAL
Program Matematika
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
UNIVERSITAS BALIKPAPAN
2016/2017
Nenti Setiawati

145020340




DAFTAR ISI
Halaman Judul           ………………………………………………………………i
Daftar Isi         ……………………………………………………………………..ii
Bab I Pendahuluan           .........................................................................................1
1.1       Latar Belakang         .................................................................................1
1.2       Rumusan Masalah         .............................................................................4
1.3       Tujuan Penelitian         ..............................................................................5
1.4       Manfaat Penelitian        .............................................................................5

Bab II Kajian Pustaka          .....................................................................................6
2.1         Deskripsi Teori    ....................................................................................6
2.2         Penelitian Relevan        ..........................................................................11
2.3         Kerangka Berpikir   ..............................................................................11
2.4         Pengajuan Hipotesis     .........................................................................12

Bab III Metodologi Penelitian           .....................................................................13
3.1         Tempat dan Waktu Penelitian       ......................................................13
3.2         Jenis Penelitian      ................................................................................13
3.3         Rancangan Penelitian       ...................................................................13
3.4         Populasi & Sampel     .........................................................................14
3.5         Variabel Penelitian & Definisi Operasional      ...................................15
3.6         Teknik Pengumpulan Data   ...............................................................16
3.7         Teknik Analisis Data      .....................................................................17

Daftar Pustaka                     ....................................................................................23

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan merupakan sumber daya insani yang sepatutnya mendapat perhatian terus menerus dalam upaya peningkatan mutunya. Peningkatan mutu pendidikan berarti pula peningkatan kualitas sumber daya manusia. Untuk itu perlu di lakukan pembaruan dalam bidang pendidikan dari waktu ke waktu tanpa henti. Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, maka peningkatan mutu pendidikan suatu hal yang sangat penting bagi pembangunan berkelanjutan di segala aspek kehidupan manusia
Proses pembelajaran tersusun atas sejumlah komponen atau unsur yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Interaksi antara guru dan peserta didik pada saat proses belajar mengajar memegang peran penting dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Kemungkinan kegagalan guru dalam menyampaikan materi disebabkan saat proses belajar mengajar guru kurang membangkitkan perhatian dan aktivitas peserta didik dalam mengikuti pelajaran khususnya matematika. Adakalanya guru mengalami kesulitan membuat siswa memahami materi yang disampaikan sehingga hasil belajar matematika rendah.
Keberhasilan pembelajaran matematika dapat diukur dari keberhasilan siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut. Keberhasilan itu dapat dilihat dari tingkat pemahaman, penguasaan materi, serta prestasi belajar siswa. Semakin tinggi pemahaman dan penguasaan materi serta prestasi belajar maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pembelajaran.
Dari hasil pengamatan pengajaran matematika di SMPI Luqman Al-Hakim Balikpapan di temukan beberapa kelemahan diantaranya adalah prestasi belajar matematika yang dicapai siswa masih rendah. Fakta tersebut ditunjukkan oleh nilai hasil belajar matematika siswa  SMPI Luqman Al-Hakim Balikpapan adalah 56,50 dan hal ini berarti masih di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) seperti yang ditetapkan oleh sekolah yang bersangkutan yaitu 60. Hal ini di pengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi siswa khususnya pada siswa kelas VII  dalam pembelajaran matematika antara lain:
1.      Keaktifan siswa kelas VII  dalam mengikuti pembelajaran masih belum tampak,
2.      Siswa jarang mengajukan pertanyaan, meskipun guru sering memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang hal-hal yang belum dipahami
3.      Keaktifan dalam mengerjakan soal-soal latihan pada proses pembelajaran yang masih kurang,
4.      Siswa di kelas VII masih butuh di motivasi untuk menuliskan apa yang diketahui, ditanyakan dan menentukan rumus yang tepat untuk menyelesaikan masalah.
Selain dari faktor siswa dalam proses pembelajaran, peran guru juga sangat penting. Pada kondisi awalnya cara guru mengajar di SMPI Luqman Al-Hakim Balikpapan khususnya guru matematika harus mampu menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan. Mengingat dalam pembelajaran itu melibatkan aktifitas mendengar, menulis, membaca merepresentasi dan diskusi untuk mengkomunikasikan suatu masalah khususnya matematika maka diskusi kelompok perlu dikembangkan. Dengan menerapkan diskusi kelompok diharapkan aspek–aspek komunikasi bisa di kembangkan sehingga bisa meningkatkan hasil belajar siswa.
Salah salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan di atas adalah Penggunaan strategi mengajar, pemilihan strategi pembelajaran yang menarik dan dapat memicu siswa untuk ikut serta secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar yaitu model pembelajaran aktif. Pada dasarnya pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Dimana peserta didik di ajak untuk turut serta dalam proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang mampu mengatasi masalah yang sudah penulis paparkan tersebut adalah Student Team Achivement Division (STAD). Dalam pendekatan pembelajaran aktif ini siswa di harapkan mampu mengembangkan kreativitas dalam menyelesaikan soal matematika. Karena kreativitas itu merupakan kemampuan individu untuk menciptakan sesuatu hal yang baru dan berbeda. Kreativitas setiap siswa berbeda–beda, siswa yang memiliki kreativitas tinggi mampu belajar dengan baik, dapat menciptakan cara belajar dengan baik, dapat menciptakan cara belajar dengan mudah serta mampu memahami, menyelesaikan soal-soal yang dihadapi dalam belajar sehingga berpengaruh terhadap prestasi belajar yang dicapai.
Penerapan model STAD ini dalam pembelajaran matematika melibatkan siswa untuk dapat berperan aktif dengan bimbingan guru, agar peningkatan kemampuan siswa dalam memahami konsep dapat terarah lebih baik.
Penulis membatasi penelitian ini pada materi himpunan, dimana penulis mengambil judul pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar siswa SMPI kelas VII Luqman Al-Hakim Balikpapan.tahun ajaran 2016/2017.
a.       Identifikasi Masalah
Berdasakan latar belakang di atas, maka identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah:
1)      Apakah aktifitas siswa dapat mempengaruhi hasil belajar matematika?
2)      Apakah minat belajar siswa dapat mempengaruhi hasil belajar matematika?
3)      Apakah minat belajar siswa dapat mempengaruhi keaktifan siswa?
4)      Faktor apakah yang dapat meningkatkan aktifitas siswa?
5)      Faktor apakah yang dapat meningkatkan minat siswa?
6)      Faktor apakah yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa?
7)      Apakah model pembelajaran dapat mempengaruhi aktifitas belajar siswa?
8)      Apakah model pembelajaran dapat mempengaruhi minat belajar siswa?
9)      Apakah model pembelajaran dapat mempengaruhi hasil belajar  siswa?
10)  Apakah model pembelajaran Student Team Achivement Divison dapat  meningkatkan aktifitas siswa?
11)  Apakah model pembelajaran student Team Achivement Division berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

b.      Pembatasan Masalah
Berdasakan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka batasan masalah dalam penelitian ini adalah:
1)      Minat belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran STAD pada siswa kelas VII SMPI  Luqman Al-Hakim Balikpapan tahun ajaran 2016/2017 terhadap materi pokok bahasan himpunan.
2)      Hasil belajar matematika dengan penerapan model pembelajaran STAD pada  siswa kelas VII SMPI  Luqman Al-Hakim Balikpapan tahun ajaran 2016/2017 terhadap materi pokok bahasan himpunan
3)      Pengaruh penerapan model pembelajaran STAD dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPI  Luqman Al-Hakim Balikpapan tahun ajaran 2016/2017 terhadap materi pokok bahasan himpunan.

1.2 Rumusan Masalah
            Dari latar belakang yang penulis paparkan, maka penulis mencoba untuk mengkaji dan meneliti dengan rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimanakah aktifitas belajar siswa Kelas VII SMPI Lukman Al-Hakim
Balikpapan tahun ajaran 2016/2017pada pokok bahasan himpunan dengan menggunakan model pembelajaran STAD.
2.      Bagaimanakah hasil belajar siswa Kelas VII SMPI Lukman Al-Hakim Balikpapan  tahun ajaran 2016/2017 pada pokok bahasan himpunan dengan menggunakan model pembelajaran STAD.
3.      Apakah terdapat pengaruh model pembelajaran STAD dalam meningkatkan hasil belajar matematika pada pokok bahasan himpunan
siswa Kelas VII SMPI Lukman Al-Hakim Balikpapan tahun ajaran 2016/2017.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran STAD dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa Kelas VII SMPI Lukman Alhakim Balikpapan
1.4 Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritis
Secara teoritis hasil penelitian ini di harapkan mampu memberikan sumbangan kepada pembelajaran matematika, terutama terhadap peningkatan hasil belajar matematika siswa. Serta secara khusus penelitian ini memberikan kontribusi pada strategi pembelajaran matematika yang berupa pergeseran dari pembelajaran yang tidak hanya mementingkan hasil menuju pembelajaran, tetapi juga mementingkan prosesnya.
2.      Manfaat Praktis
a.       Memberi masukan pada guru dalam menentukan strategi mengajar yang tepat, yang dapat menjadi alternatif lain dalam mata pelajaran matematika
b.      Memberi sumbangan informasi untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah menengah
c.       Memberi masukan pada siswa untuk meningkatkan kreatifitas belajarnya, mengoptimalkan kemampuan berpikir positif dalam mengembangkan diri di tengah-tengah lingkungan dalam meraih keberhasilan belajar.
d.      Bahan pertimbangan, masukan atau referensi untuk penelitian lebih lanjut.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1  Deskripsi Teori
A.  Pengertian Belajar Pendekatan Konstruktivisme
Pembelajaran menurut Karli dan Margaretha (2002) adalah proses pembelajaran yang diawali konflik kognitif yang pada akhirnya pengetahuan akan dibangun sendiri oleh siswa melalui pengalaman dan hasil interaksi dengan lingkungannya. Disamping itu menurut Tobin dan Timmons (Isjoni, 2007) menegaskan bahwa pembelajaran yang berlandaskan pandangan konstruktivisme harus memperhatikan empat hal, yaitu :
1)        Berkaitan dengan pengetahuan awal siswa
2)        Belajar melalui pengalaman
3)        Melibatkan interaksi sosial, dan
4)        Kepahaman
Disamping itu model pembelajaran konstruktivisme menekankan pada kemampuan, keterampilan, dan pemikiran siswa horleys et al (Isjoni, 2007). Berdasarkan pandangan tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran model konstruktivisme dalam suatu belajar mengajar diawali dengan konflik kognitif  meliputi pengetahuan awal siswa dan melalui pengalaman langsung dengan lingkungannya.
B.  Model Pembelajaran
Istilah model pembelajaran dibedakan dari istilah strategi pembelajaran, metode pembelajaran atau prinsip pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi atau metode tertentu, yaitu :
1.      Rasional teoritik yang logis yang disusun oleh penciptanya
2.      Tujuan pembelajaran yang akan di capai
3.      Tingkah laku mengajar yang di perlukan agar model tersebut dapat di lakukan sampai berhasil, dan
4.      Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai

C.  Model Pembelajaran Kooperatif
Merupakan suatu pembelajaran kelompok dengan jumlah peserta didik 3-5 orang dengan gagasan untuk saling membantu, agar tercapainya suatu tujuan pembelajaran yang maksimal. Menurut Slavin (Isjoni, 2011) pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja secara berkelompok-kelompok kecil berjumlah 4-5 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang peserta didik lebih bergairah dalam belajar. Adapun menurut Depdiknas (2003) pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran melalui kelompok kecil siswa yang saling bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Jadi, pembelajaran kooperatif dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang di lakukan secara berkelompok agar siswa aktif dalam belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
D.  Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achivement Division (STAD)
Menurut Robert E.Slavin gagasan utama dari STAD adalah untuk memotivasi peserta didik supaya dapat saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam menguasai kemampuan yang diajarkan guru.
E.     Persiapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Hal-hal yang perlu di persiapkan tenaga pendidik sebelum memulai model pembelajaran kooperatif tipe STAD menurut Amin Suyitno sebagai berikut :
1.      Menyusun data nilai harian peserta didik yang digunakan sebagai pedoman untuk membentuk peserta didik yang heterogen terdiri dari 4-5 peserta didik dengan menghitung skor rata-rata suatu kelompok
2.      Tenaga pendidik membentuk peserta didik yang heterogen terdiri dari peserta didik dengan latar belakang yang berbeda tanpa pembedaan kecerdasan, suku, bangsa, maupun agama.
3.      Tenaga pendidik mempersiapkan lembar kerja siswa (LKS) untuk belajar peserta didik dan bukan sekedar di isi dan di kumpulkan
4.      Tenaga pendidik juga menyiapkan kunci jawaban LKS untuk mengoreksi pekerjaan peserta didik
5.      Kuis, berupa tes singkat untuk seluruh peserta didik dengan waktu 10-15 menit
6.      Membuat tes ulangan untuk melihat ketercapaian hasil belajar yang diharapkan

F.     Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

1.      Tenaga pendidik meminta peseta didik untuk mempelajari pokok bahasan yang segera akan dibahas dirumah masing-masing
2.      Di kelas, tenaga pendidik membentuk kelompik belajar yang heterogen dan mengatur tempat duduk peserta didik agar setiap anggota kelompok dapat saling bertatap muka
3.      Tenaga pendidik dapat mempresentasikan materi terlebih dahulu sebelum peserta didik berdiskusi
4.      Tenaga pendidik membagi LKS ke setiap kelompok, masing-masing kelompok di beri 2 set
5.      Tenaga Pendidik menganjurkan setiap peserta didik mengerjakan LKS secara berpasangan 2-2 atau 3-3 kemudian saling mengoreksi pekerjaan antar pasangan tersebut
6.      Berikan kunci jawaban LKS agar peseta didik dapat mengoreksi pekerjaannya sendiri
7.      Bila ada pertanyaan dari peserta didik, Tenaga pendidik meminta peserta didik untuk mengajukan pertanyaan kepada teman satu kelompoknya sebelum mengajukan kepada tenaga pendidik
8.      Tenaga pendidik berkeliling untuk mengawasi kinerja kelompok
9.      Ketua kelompok melaporkan keberhasilan dan hambatan kelompoknya kepada tenaga pendidik dalam mengisi LKS sehingga guru dapat memberikan bantuan kepada kelompok yang membutuhkan secara proporsional
10.  Ketua kelompok harus dapat memastikan bahwa setiap anggota kelompok telah memahami dan dapat mengerjakan LKS yang di berikan tenaga pendidik
11.  Tenaga pendidik bertindak sebagai narasumber atau fasilitator jika di perlukan
12.  Setelah selesai mengerjakan LKS secara tuntas , berikan kuis pada peserta didik
13.  Berikan penghargaan kepada peserta didik yang menjawab dengan benar dan kelompok yang memperoleh skor tertinggi, kemudian berilah pengakuan atau pujian kepada presentasi tim.
14.  Tenaga pendidik memberikan tugas atau pekerjaan rumah (PR) secara individual kepada para peserta didik tentang pokok bahasan yang sedang di pelajari
15.  Tenaga pendidik membubarkan kelompok yang di bentuk dan para peserta didik kembali ke tempat duduk masing masing
16.  Tenaga pendidik dapat memberikan tes formatif sesuai dengan kompetensi yang di tentukan (TPK)

G.    Kelebihan Pembelajaran Tipe STAD
1.      Meningkatkan kerjasama, kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi yang tinggi antar sesama anggota kelompok
2.      Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas
3.      Meningkatkan harga diri dan dapat memperbaiki sikap ilmiah terhadap matematika
4.      Memperbaiki kehadiran peserta didik
5.      Penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar
6.      Konflik pribadi menjadi berkurang
7.      Meningkatkan pemahaman pada materi pelajaran
8.      Apabila mendapat penhargaan, motivasi belajar peserta didik akan menjadi lebih besar
9.      Hasil belajar lebih tinggi

H.  Hasil Belajar
Adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah menerima pengalaman belajarnya. Menurut Muhibin Syah (2010) secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat di bedakan menjadi 3 macam yaitu :
1.    Faktor Internal
Yaitu keadaan/kondisi jasmani dan rohani peserta didik.
2.    Faktor Eksternal
Yaitu kondisi lingkungan di sekitar peserta didik.
3.    Faktor Pendekatan Belajar
Yaitu jenis upaya belajar peserta didik yang meliputi strategi dan metode yang di gunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pembelajaran. Faktor ini di klasifikasikan menjadi dua yaitu faktor manusia dan non manusia.
Beberapa ciri untuk melihat hasil belajar yang diperoleh peserta didik setelah melakukan proses belajar adalah sebagai berikut:
1.      Peserta didik dapat mengingat fakta, prinsip, konsep yang telah di pelajarinya dalam kurun waktu yang cukup lama
2.      Peserta didik memberikan contoh dari konsep dan prinsip yang telah di pelajarinya
3.      Peserta dapat mengaplikasikan atau menggunakan konsep dan prinsip yang telah dipelajarinya
4.      Peseta mempunyai dorongan yang kuat untuk mempelajari bahan pelajaran lebih lanjut
5.      Peserta terampil mengadakan hubungan sosial seperti kerjasama dengan siswa lain, berkomunikasi dengan baik dan lain sebagainya
6.      Peserta didik memperoleh kepercayaan diri, bahwasanya dirinya mempunyai kemampuan dan kesanggupan melakukan tugas belajar
7.      Peserta didik menguasai bahan yang telah dipelajari minimal 65% dari yang seharusnya di capai.
2.2    Penelitian Relevan
Untuk keabsahannya penelitian ini, penulis mengutip pendapat para ahli tentang model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Menurut Nur Cipta Utomo dan C.Novi Primiani (2009) STAD merupakan desain untuk memotivasi siswa supaya kembali bersemangat dan saling menolong untuk mengembangkan keterampilan yang diajarkan oleh guru. Adapun menurut Mohamad Nur (2008) pada model STAD siswa dikelompokkan dalam tim dengan anggota 4 siswa pada setiap tim. Tim dibentuk secara heterogen menurut tingkat kinerja, jenis kelamin, dan suku. Disamping itu dalam Slavin (1995) STAD merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana , dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kooperatif.
2.3  Kerangka Berpikir
Di dalam kegiatan belajar mengajar, peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sanagat diperlukan. Motivasi bagi pelajar dapat mengembangkan kemampuan berproses, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian, motivasi menentukan tingkat berhasil atau tidaknya kegiatan belajar peserta didik. Motivasi menurut Rooijakkers (1991) merupakan faktor internal yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.  Salah satu cara untuk menumbuhkan motivasi adalah dengan model pembelajaran yang bervariatif dan tidak monoton. Model pembelajaran STAD adalah salah satu model pembelajaran yang bercirikan kerjasama antar siswa, berfikir dan aktif sehingga siswa akan termofivasi untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak mudah jenuh.
2.4  Pengajuan Hipotesis
Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat di rumuskan hipotesis sebagai berikut :
a)      Hipotesis Kerja H1
Terdapat pengaruh model pembelajaran STAD dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPI Luqman Al-Hakim Balikpapan tahun pelajaran 2016/2017 pada pokok  bahasan himpunan
b)      Hipotesis Nihil H0
Terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran STAD dalam meningkatkan hasil belajar matematikan peserta didik kelas VII SMPI Luqman Al-Hakim Balikpapan tahun pelajaran 2016-2017 pada pokok bahasan himpunan








BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1    Tempat dan Waktu Penelitian
Penulis memilih subyek penelitian ini adalah peserta didik SMPI Luqman Al-Hakim Balikpapan. Sedangkan waktu penelitian direncanakan akan di laksanakan selama 1 bulan yaitu dari tanggal 15 November 2016 sampai 15 Desember 2016.
3.2  Jenis Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang penulis paparkan sebelumnya, maka jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen adalah penelitian yang adanya perlakuan atau treatment yang di gunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendali.
Dalam penelitian ini di ambil dua kelompok yaitu kelompok eksperimen yang di berikan pendekatan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan kelompok kontrol dengan pembelajaran langsung pada akhir penelitian di lakukan tes akhir untuk melihat hasil belajar matematika kedua sampel.
3.3    Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Randomized pretest, postest control grup design yaitu kelas di bagi menjadi 2 kelompok yaitu kelas kontrol dan kelompok kelas eksperimeN. Perlakuan yang di berikan pada kelas eksperimen adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Sedangkan pada kelas kontrol menggunakan pembelajaran langsung.
Tabel 3.1 Randomized pretest, postest control grup design
Kelas
Pretest
Treatment
Postest
Eksperimen

Kontrol
O1

O2
X1

X2
P1

P2
Keterangan:
O : Tes awal yang di berikan pada kelas eksperimen dan kontrol sebelum penelitian  (O1 dan O2)
X1 : Perlakuan yang di berikan pada kelas eksperimen berupa kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD
X2 : Kegiatan pembelajaran kelas kontrol yang tidak menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD
P   : Tes akhir yang di berikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah penelitian (P1 dan P2)
3.4    Populasi dan Sampel
a.    Populasi
Populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VII SMPI Luqman Al-Hakim Balikpapan yang terdaftar pada tahun ajaran 2016/2017.

Tabel 3.2 Jumlah Siswa kelas VII SMPI Luqman Al-Hakim Balikpapan yang terdaftar pada tahun ajaran 2016/2017

No.
Kelas
Jumlah Siswa
1.
VII-1
35 Orang
2.
VII-2
30 Orang
Jumlah
65 Orang
(Sumber : Guru SMPI Luqman Al-Hakim Balikpapan)
b.    Sampel
Karena populasi dalam penelitian ini hanya berjumlah sebanyak 65 siswa dan ini berarti subyeknya kurang dari 100, maka peneliti menggunakan teknik Total Sampling. Keputusan ini berdasarkan apa yang di kemukakan oleh Arikunto (1996) bahwa apabila subyeknya kurang dari 100 lebih baik di ambil semua hingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subyeknya besar dapat di ambil 10-15% atau 20-25% atau lebih.
Dari kedua kelas tersebut peneliti melakukan pengundian dalam rangka menetapkan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Setelah melakukan pengundian, maka terpilih sebagai kelas eksperimen adalah siswa kelas VII-1 sebanyak 35 siswa dan siswa kelas VII-2 sebanyak 30 siswa sebagai siswa kontrol.

3.5         Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Variabel penelitian adalah obyek penelitian yang  bervariasi yaitu segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang di tetapkan peneliti untuk di pelajari, sehingga di peroleh informasi untuk hal tersebut. Adapun yang menjadi variabel dalam penelitian ini yaitu:
1.    Variabel Bebas
Merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahanya atau yang menjadi timbulnya variabel terikat.
a.    Definisi Operasional
Yang menjadi variabel bebas dalam penelitan ini adalah proses pembejaran matematika materi himpunan yang di terapkan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
b.    Indikator
Proses pembelajaran matematika materi ajar himpunan pada 2 kelas, yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen.
2.    Variabel terikat
Merupakan variabel yang di pengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas.
a.    Definisi Operasional
Yang menjadi variabel terikat dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMPI Luqman Al-Hakim Balikpapan pada materi ajar himpunan
b.    Indikator
Dengan menggunakan indikator penguasaan materi pada pelajaran matematika materi ajar himpunan yaitu usaha untuk mencapai hasil belajar menjadi lebih meningkat melalui nilai postest.
3.6    Teknik Pengumpulan Data
Penerapan model pembelajaran STAD dalam penelitian ini membutuhkan data-data yang dapat di analisis sehingga dapat di tarik kesimpulan yang akurat dari hasil eksperimen yang di lakukan. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode :
a.    Tes
Adalah serentetan pertanyaan atau latihan soal yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok ( Suharsimi Ari Kunto, 1996). Tes ini di gunakan untuk mendapatkan hasil data pembelajaran matematika peserta didik sesudah di berikan perlakuan pada pokok bahasan himpunan. Tes yang di gunakan berupa tes obyektif.
b.    Metode dokumentasi
Yaitu mengumpulkan data berupa peninggalan tertulis seperti arsip-arsip yang berhubungan dengan masalah penelitian ini. Dokumentasi yang diperlukan adalah data mengenai nama siswa dan nilai ulangan matematika ketika ujian tengah semester. Hal ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan asil belajar matematika siswa setelah diberikan perlakuan.
c.    Metode observasi
Metode ini di gunakan untuk mendapatkan informasi pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran  Student Team Achivement Divisiondilaksanakan

3.7    Teknik Analisis Data
Dalam menganalisis data harus ditempuh langkah-langkah sebagai berikut :
a.    Analisis uji instrumen penelitian
Dalam analisis uji coba tes ini langkah-langkah yang di tempuh adalah:
1.    Analisis Validitas Tes
Analisis ini digunakan untuk mengetahui apakah butir soal sebagai instrumen penelitian valid atau tidak valid. Untuk menghitung koefisien kualitasnya, peneliti menggunakan rumus korelasi Product moment sebagai berikut :

Keterangan :
rxy = Koefisien validitas butir soal
N = Banyaknya siswa peserta tes
X = Jumlah skor item
Y = Jumlah skor total
Dari rxy yang di peroleh tersebut kemudian di bandingkan dengan tabel harga kritis Product moment. Item tersebut dikatakan valid jika rhitung ... rtabel (Suharsimi Arikunto, 1998)
2.    Analisis Realibilitas
Dalam penelitian ini teknik analisis realibilitas yang digunakan adalah tes tunggal dengan teknik non belah dua dari Kuder dan Richardson (K-R 20) dengan rumus sebagai berikut :

r11 =

Keterangan :
n = banyak sampel
p= proporsi subyek yang menjawab benar pada butir soal ke-i
qi = proporsi subyek yang menjawab salah pada butir soal ke-i
jadi qi = 1 - pi
s2 =  varians skor total
(Erman Suherman, 1993)
 r11 yang diperoleh dari hasil perhitungan kemudian dibandingkan dengan rtabel product moment dengan taraf signifikan 5% apabila r11 > rtabel maka soal instrumen tersebut reliabel.  (Suharsimi Arikunto, 1993).
3.    Analisis Tingkat Kesukaran
Analisis tingkat kesukaran bertujuan untuk mengetahui item soal yang akan diujikan. Dalam hal ini tingkat kesukaran yang baik adalah pada interval 25% - 75%. Item yang mempunyai tingkat kesukara lebih dari 75% soal tersebut terlalu mudah. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untukmempertinggi usaha dalam menyelesaikannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi, karena diluar jangkauannya. (Arikunto, 1998).
Adapun rumus untuk menghitung tingkat kesukaran sebagai berikut:
 
Dengan :
P = Tingkat kesukaran soal
B = Banyak siswa yang menjawab dengan benar item tersebut
JS = Banyak siswa yang mengikuti tes
Dengan kriteria :
0,00 ≤  p < 0,30, soal dikatakan sukar
0,30 ≤  p < 0,70, soal dikatakan sedang
0,70 ≤  p ≤ 1,00, soal dikatakan mudah
(Suharsimi Arikunto, 1998)
4.    Analisis Daya Pembeda
Analisis daya pembeda digunakan untuk meninjau daya pembeda soalnya. Item yang baik adalah item yang mempunyai daya pembeda lebih dari 0,20. Item soal yang daya pembedanya dibawah 0,20 tidak baik untuk digunakan sebagai instrumen penelitian. Dengan demikian soal harus direvisi, diganti atau tidak digunakan.
Rumus yang digunakan sebagai berikut:


Dengan :
DP =  Daya pembeda soal
JA =  Banyaknya peserta tes yang menjadi anggota kelompok atas
JB =  Banyaknya peserta tes yang menjadi anggota kelompok  
         bawah.
BA = Banyaknya peserta tes yang menjadi anggota kelompok atas
         menjawab item tertentu dengan benar.
BB = Banyaknya peserta tes yang menjadi anggota kelompok  
          bawah dan menjawab item tertentu dengan benar
PA = Proporsi peserta tes kelompok atas yang menjawab item
         tertentu dengan benar
PB = Proporsi peserta tes kelompok bawah yang menjawab item
         tertentu dengan benar.
Kategori yang digunakan adalah :
0,00 – 0,20, jelek
0,20 – 0,40,cukup
0,40 – 0,70, baik
0,70 – 1,00, baik sekali
(Suharsimi Arikunto, 1998)
b.    Analisis Uji Data Hasil Penelitian
1.    Uji Prasarat Analisis
Bertujuan untuk mengetahui normalitas dan homogenitasnya sebelum data tersebut di analisis dengan menggunakan rumus uji-t.
a.    Uji normalitas
Di gunakan untuk menguji apakah data berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas ini di berikan untuk kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol setelah di berikan postest. Peneliti menggunakan statistik uji chi kuadrat dengan rumus sebagai berikut :

Keterangan :
x2 = chi kuadrat
Oi = Frekuensi yang di observasi
Ei = Frekuensi yang di harapkan
(Suharsimi Arikunto, 1996)

x2hitung yang telah di peroleh dari hasil perhitungan selanjutnya di bandingkan dengan x2tabel dengan derajat kebebasan dk = K-3 dan taraf signifikan α = 5% . Data dikatakan normal apabila x2hitung  <  x2tabel. (Suharsimi Arikunto, 1996)
b.    Uji Homogenitas
Di maksudkan untuk mengetahui apakah varians populasi homogen atau tidak. Peneliti melakukan pengujian dengan uji fisher ( uji F) sebagai berikut :

Keterangan :
F = Homogenitas yang di cari
MKk = Mean kuadrat kelompok
MKd = Mean kuadrat dalam
(Suharsimi Arikunto, 1996)
Hasil yang di peroleh dari Fhitung selanjutnya di bandingkan dengan Ftabel yang mempunyai dk pembilang sebesar (nb-1) dan dk penyebut (nk-1) serta taraf signifikan α=5% .
Dikatakan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berasal dari populasi yang memiliki variansi yang relatif sama apabila Fhitung < x2tabel.
2.    Pengujian Hipotesis
Setelah melakukan uji normalitas dan uji homogenitas, maka langkah berikutnya adalah melakukan analisis uji-t untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar matematika materi ajar himpunan.
Peneliti menggunakan uji statistik uji-t untuk satu pihak (pihak kanan)
Langkah-langkah dalam melakukan pengujian adalah sebagai berikut :
Hipotesis yang akan di ujikan adalah :
Ho : µ1 ≤ µ2 nilai rata-rata kelompok eksperimen lebih rendah dari nilai data kelompok kontrol
H1 : µ1 > µ2 nilai rata-rata kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol
α = 5%

Keterangan :
Ho : Tidak dapat pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPI Luqman Al-Hakim tahun pelajaran 2016/2017 pada pokok bahasan himpunan.
H1  : Terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMPI Luqman Al-Hakim tahun pelajaran 2016/2017 pada pokok bahasan himpunan.
Rumus uji-t yang digunakan adalah sebagai berikut :
Keterangan:
T = Nilai t hitung
= Rata-rata nilai kelompok eksperimen
= Rata-rata nilai kelompok kontrol
= Standar durasi pada kelompok eksperimen
= Standar durasi pada kelompok kontrol
= Banyaknya subyek kelompok eksperimen
= Banyaknya subyek kelompok kontrol
Hasil yang diperoleh dari thitung selanjutnya di bandingkan dengan ttabel yang memiliki derajat kebebasan dk = n1+ n2 – 2 dan taraf signifikansi α=5%. Dalam hal ini tolak hipotesis nol jika thitung > ttabel. Dengan demikian dapat di katakan terdapat pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar matematika siswa.












Daftar Pustaka
1.      Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung : CV. Alfabeta.
2.      Zen, Ilham. “Uji t Dua Sampel”. https://freelearningji.wordpress.com/2013/04/06/uji-t-dua-sampel/ (Diakses 13 November 2016).

3.      Syahrul, Muhamad.Pengertian, Persiapan, Langkah-Langkah dan Kelebihan serta Kekurangan Pembelajaran Koperatif Tipe STAD”.

http://www.wawasanpendidikan.com/2016/01/Pengertian-Persiapan-Langkah-Langkah-dan-Kelebihan-serta-Kekurangan-Pembelajaran-Koperatif-Tipe-STAD.html?m=1 (Diakses 11 November 2016).

4.      Pustaka, Tinjauan. “Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD”. http://edutaka.blogspot.com/2015/03/pembelajaran-kooperatif-tipe-stad.html?m=1 (Diakses 11 November 2016).
5.      Dedi. “Pengertian Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Menurut Para Ahli”.
http://dedi26.blogspot.co.id/2013/05/pengertian-pembelajaran-kooperatif.html?m=1 (Diakses 11 November 2016).
6.      Sutrisna, Yaya. “Pendekatan Krontuktivisme”.
http://repository.upi.edu>s_pwk_0810522_chapter2.pdf (Diakses 13 November 2016).
7.      Rikawati, Dyah Maya. “Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD”
http://dyahmayarikawati.blogspot.com/2014/12/model-pembelajaran-kooperatif-tipe-stad.html?m%3D1&ei=j-jwVMw6&lc=id-ID&s=1&m=660&host=www.google.co.id&ts=1479036385&sig=AF9NedlFMQkx7NrNxx9qI-IMRp5t3D9DBQ (Diakses 11 November 2013).

ARTIKEL TERKAIT:

No comments:

Post a Comment