Thursday, May 16, 2013

Ketika Kesabaran Berbalas Keindahan

Langit kelabu. Tak ada secercah senyuman mentari yang hadir hari ini. Mbah Tarjo terus mengayuh sepeda ontelnya menyisir jalan perumahan komplek demi menyambung hidup. Bapak lansia ini berprofesi sebagai tukang sol sepatu dan sandal keliling. Jika orang lain berpikir “malam ini enaknya makan apa ya?”, sedangkan mbah Tarjo boro-boro berpikir seperti itu, yang bisa dimakan untuk malam ini pun tak sempat mampir dalam pikirannya.
Di tengah cuaca mendung seperti ini pun baginya sangat sulit untuk mendapatkan pelanggan. Bagi Mbah Tarjo, setiap hari adalah hari kesabaran dalam mengais rezeki. Saat ada peluang untuk menghasilkan sebutir rupiah, disitulah beliau akan terus berusaha. Baginya prinsip kejujuran dalam hidup itu sangat berharga. Sehingga  dia tak ingin mengambil hak orang lain.
Seharian ini mbah Tarjo belum mendapat sekeping receh ataupun selembar rupiah. Terik sang surya makin menyayat kulitnya yang makin keriput saja. Tak jarang ia mengahabiskan berteduh disetiap yang dianggapnya nyaman dari panasnya matahari. Ontel yang senantiasa menemani beliau pun ikut berpanas-panasan hingga ban roda ontel itu sempat mengalami bocor dalam tiap bulannya.
Jam 11 siang, saat tiba di depan sebuah rumah cukup mewah, ada seorang pemuda yang sempat memanggil mbah Tarjo. Seorang pemuda itu kira-kira berusia 25 tahunan yang terlihat sangat terburu-buru.  Saat itulah mbah Tarjo mendapat pelanggan pertamanya.
Sembari mbah Tarjo menambal sepatunya yang bolong dan bisa dikatakan tidak layak dipakai, pemuda itu tak henti-hentinya menatap jam di tangannya. Dengan usaha mbah Tarjo yang sudah berpengalaman sejak puluhan tahun itu, sehingga dapat menyelesaikan dengan waktu singkat dan rapi.
“Sudah selesai, Pak? Cepat sekali menambalnya, Pak? Berapa Pak?”
“5000 rupiah, Mas.”
Ketika pemuda itu mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari dompetnya, mbah Tarjo sempat kaget dan tentu saja tak ada kembalian sama sekali dikantung sakunya. Apalagi pemuda itu pelanggan pertama bagi mbah Tarjo.
“Maaf mas, tidak ada kembaliannya mas. Apa ada uang pas, Mas?”
“Wah, tak ada, Pak. Ini saja belum sempat saya pecah, Pak.”
“Tapi, maaf Mas. Saya belum ada uang kembalian.”
“Hemm, coba saya tukar dulu ke warung-warung sebelah ya, Pak?”
“Tak usah Mas. Bawa dulu saja uangnya. Gampang kalau ketemu lagi, Mas. Seperinya Mas juga buru-buru ke kantor, silakan bawa dulu saja.”
“oh, ya sudah, saya berangkat dulu, Pak. Semoga kita ketemu lagi, Pak. Terimakasih Pak.”
Lagi-lagi beliau harus bergelut dengan hati yang dipenuhi kesabaran. Sempat beliau berpikir sampai kapan kesabaran ini berakhir? Namun itulah sekadar kata-kata dalam batin. Teruslah mbah Tarjo mengayuh mengitari komplek perumahan yang lainnya.
Waktu ashar tiba. Mbah Tarjo menyempatkan waktu untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Setelah selesai salat ashar, mbah Tarjo kaget karena di depan mushalah ada pemuda yang tadi pagi meminjam tenaga kerjanya, walaupun belum sempat ia bayar.
“wah, Bapak? Kebetulan kita ketemu di sini, Pak. Oh ya, ini Pak, yang tadi pagi belum sempat saya bayar.”
Sembari mengeluarkan dompetnya, yang terlihat uang biru lagi dan beberapa uang seratus ribuan yang akan diberikan oleh pemuda itu.
“maaf, Mas. Saya masih belum ada kembaliannya.”
“tidak usah Pak. Saya telat 5 menit saja bisa gagal semua rencana saya, Pak. Tadi tes wawancara. Untungnya Bapak menyuruh saya pergi dulu. Alhamdulillah, saya diterima kerja di luar negeri dari kantor saya, mohon doanya ya,Pak.”
“syukurlah kalau begitu. Tapi, apa ini tidak terlalu banyak, Mas?”
“lima ribu untuk bayar sol sepatu, selebihnya untuk kesuksesan saya dan kesabaran Bapak hari ini.”
“Subhanallah, terimakasih Mas atas kebaikannya. Semoga Allah senantiasa memberi kelancaran rezeki bagimu, nak!”
“Amiiin, sama-sama, Pak.”
Usailah perjumpaan mereka dengan senyuman yang penuh keikhlasan. Bagi mbah Tarjo sebuah kesabaran yang dilandasi dengan rasa syukur dan ikhlas itu akan membuahkan  hasil yang berupa keindahan, selayak indahnya mentari senja.

Semoga bermanfaat 

Di tulis oleh : Twienster

ARTIKEL TERKAIT:

No comments:

Post a Comment