Saturday, May 5, 2012

Wahn.. Musuh Sang Pengendali….

Suatu hari, ketika Rasulullah SAW sedang berkumpul dengan para Sahabat, beliau bersabda,  
“Hampir-hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk”.


Seorang sahabat bertanya, 
“Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?”
Beliau menjawab, “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut (musuh) kepada kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian wahn. “
Seseorang lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu wahn?”

Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.”
Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dawud itu membuat heran para sahabat. Pasalnya, meski jumlah mereka sedikit saat itu, mereka ditakuti musuh dan telah memiliki pengaruh yang sangat besar. Mereka telah menjadi pengendali, bukan dikendalikan. Bagaimana mungkin umat yang sedemikian kuat dan mulianya ini kehilangan kewibawaan, bahkan dijadikan mangsa, sementara jumlah mereka banyak?
Namun, apa yang dinyatakan Rasulullah SAW itu rasanya telah menjadi kenyataan sekarang ini. Coba renungkan, ngerei kita pernah dijajah selama 3,5 abad oleh Belanda. Begitu pula Negara-negara Muslim di belahan bumi lainnya. Bahkan, hingga kini masih banyak Negara Muslim yang secara politik dan militer dikuasai oleh musuh-musuh Allah SWT. Di kancah global, kekuatan kaum Muslim belum diperhitungkan. Padahal, jumlahnya tidak sedikit, satu miliar orang atau seperlima penduduk dunia.
Sebetulnya, upaya kaum Muslim untuk bangkit dari keterpurukan bukan tak ada. Hasilnya pun sudah terasa. Bukankah telah banyak Negara Muslim yang telah meredeka?. Namun, meski telah berdaulat, faktanya masih banyak Negara Muslim yang menggantungkan dirinya pada bangsa-bangsa kafir. Padahal mereka di karuniai sumber daya alam yang melimpah.
Ironis, memang! Terlebih bila dikaitkan dengan misi utama umat Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Mestinya umat Islam menjadi pengendali peradaban, bukan objek yang dikendalikan.
Lantas apa yang musti kita lakukan?
Menyikapi Dunia
Virus yang melumpuhkan umat Islam sekarang ini adalah cinta dunia, sesuai sinyal yang disampaikan Rasulullah SAW pada masa lalu. Cinta dunia inilah yang membuat jiwa seorang Muslim melemah. Ia ibarat virus HIV yang menggerogoti kekebalan tubuh.
Dalam sabda yang lain, Rasulullah SAW juga menyatakan bahwa virus cinta dunia ini bisa menyebabkan seseorang menjadi serakah, sebagaimana seekor serigala yang masuk dalam kandang kambing. Bahkan, ulama pun bisa menjadi jahat (ulama su’) saat terjangkiti penyakit cinta dunia ini, apalah lagi manusia pada umumnya.
Ketika Hasa al-Bashri ditanya apa yang paling merusak agama, beliau memberikan jawaban yang sama dengan Rasulullah SAW : serakah! Anehnya justru keserakahan inilah yang menjadi spirit ideology materialism dan kapitalisme saat ini.
Secara kejiwaan, seorang Muslim yang cinta dunia mengalami konflik batin dengan keyakinannya sendiri yang menempatkan Allah SWT sebagai tujuan tertinggi. Adanya ketidak selarasan ini membuat dia kehilangan arah. Ia tidak lagi berkomitmen dengan nilai tauhid yang menjadi ajaran utamanya. Akibatnya, kewibawaan pun dicabut darinya dan musuh pun tidak takut mempermainkannya.
Allah SWT mengecam orang-orang yang terjangkit virus al-wahn ini denga firman-Nya :
“Katakanlah,”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat inggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak member petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Q.S At-Taubah: 24)
Seorang Muslim yang mengejar dunia mungkin akan mendapatkannya, sebagaimana orang-orang materialis yang banyak mendapatkannya. Tapi, jika kepentingan dunia itu menjadi tujuan, ia tak akan pernah menjadi pengendali dunia, melainkan di perbudak oleh dunia. Bukankan Qarun juga diberikan harta yang banyak? Ia telah ditenggelamkan oleh Allah SWT karena menukar dirinya dari hamba Allah SWT menjadi hamba dunia.
Seorang Muslim bukan berarti tak boleh menguasai ekonomi, ilmu pengetahuan, informasi, dan teknologi. Namun, letakkan semua itu di atas tangan, jangan di dalam hati. Ketika harta tidak masuk dalam hati, kita akan berkuasa menggunakannya untuk amal kebaikan. Sedang hati hanya kita gunakan untuk mencari ridha Allah.
Harta bukan untuk dicintai. Harta dalam Islam hanya akan bernilai baik jika digunakan untuk kebaikan di jalan Allah SWT. Inilah yang secara indah ditorehkan dalam sejarah oleh Sahabat Abu Bakar Asshidiq, Abdurrahman bin Auf, dan Utsman bin Affan. Abdurrahman bin Auf pernah menyedekahkan seluruh kafilah dagangnya sebanyak 700 unta. Utsman bin Affan berkorban sebanyak sepertiga hartanya. Abu Bakar bahkan menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah SWT. Mereka kaya raya, tapi mampu menempatkan dunia ini sebagai sarana berjuang di jalan Allah SWT. Dan, mereka tidak jatuh miskin karenanya, justru harta mereka kian berkah.
Muslim yang berpikir seperti itulah yang harus kita siapkan saat ini jika kita ingin menjadi pengedali dunia. Seorang Muslim hanya menjadi budak Allah SWT saja (Abdullah dan khalifah fil ardh), bukan budak dunia.
Menyikapi Kematian
Setiap yang bernyawa pasti mati, dan manusia adalah makhluk benyawa. Karena itu, siap atau tidak, kematian akan menjemput kita. Tak ada yang bisa mengelak. Kematian adalah keniscayaan. Karena itu bagi seorang Muslim kematian harus dipersiapkan secara sadar dan dihadapi dengan baik. Bukan malah dibenci.
Kenapa seorang membenci kematian? Karena dia terlalu mencintai dunia ini dan takut kehilangan kesenangan dunia yang tengah dinikmatinya.  Kehidupan dunia ini telah melalaikannya sehingga ia tak sadar harus menyiapkan kehidupan setelah matinya. Ia telah menghabiskan sumber daya  dan waktunya untuk kehidupan dunia ini. Padahal dunia ini fana.
Hal ini berbeda dengan seseorang yang tujuan hidupnya mencari ridha Allah SWT. Ia akan menyiapkan dan memprioritaskan kehidupan akhirat dengan memperbanyak amal kebaikan. Ia rela bermujahadah dan berkorban harta dan jiwanya demi kehidupan abadinya. Aset yang dimiliki digunakan sepenuhnya untuk menjemput ridha ilahi. Orang demikian, insyaAllah telah menyiapkan kehidupan akhirat yang lebih baik dari dunia ini. Sehingga ia menjadikan kematian bukan sesuatu yang ditakuti, tetapi sebagai pintu menuju kebahagiaan abadi.
Kematian bukanlah terputusnya kehidupan dan kesenangan. Tetapi justru terbukanya pintu bertemu Tuhan. Seorang yang menjadikan Tuhan sebagai tujuan utamanya, saat kematian akan tersenyum. Sikap demikianlah yang diteladankan oleh generasi terdahulu. Mereka mulia dalam kehidupannya karena mereka menjadikan kehidupannya sebagai lahan perjuangan. Bahkan kematian justru merupakan kemuliaan. ‘Isykariman aw mut syahidan’ (hidup mulia atau mati syahid), begitu kata pepatah.
Mereka yang menjadikan kehidupan dan kematiannya sebagai jalan kemuliaan akan menjadi pengendali dunia, bukan menjadi budak dunia. Dunia justru tunduk kepadanya. Para musuhnya pun akan takut mempermainkan mereka. Dan dengan kewibawaan yang diberikan Allah SWT jadilah ia pengendali dunia dan pemimpin peradaban rahmatan lil alamin.
Wallahu a’lam bish shawab.

ARTIKEL TERKAIT:

No comments:

Post a Comment